Rabu, 15 Juni 2011

Wanita Memberikan Nilai Estetika

Rosiani Silalahi, Tina Talisa dan Najwa Shihab merupakan tiga (3) wanita yang punya nama dan populer dalam dunia broadcasting. Tiga wanita ini sama-sama menggawangi sebuah program berita terpopuler di stasiun televisi swasta Indonesia. Rosiana Silalahi misalnya, pernah menjadi orang nomer satu (1) di program berita Liputan 6 SCTV, sebelum akhirnya ‘hijrah’ ke stasiun Global TV dengan memegang program baru ROSSY. Najwa Shihab yang masuk dalam jajaran presenter senior Metro TV menggawangi berbagai acara news mulai dari Metro Hari Ini dan Today’s Dialogue. Sementara itu, Tina Talisa yang pernah bergabung di Reportase Sore, Trans TV kini justru menjadi presenter di sebuah stasiun pimpinan Karni Ilyas, TV-One.
Kemunculan tiga wanita ini (sebagai perwakilan wanita lain yang terjun di media massa) memberikan ‘warna’ baru dalam industry broadcasting. Meski tidak memiliki latar belakang jurnalistik, ketiga wanita ternyata mampu membawakan sebuah acara unggulan secara menarik dan cerdas. Rosiana Silalahi adalah seorang alumnus dari Fakultas Sastra Jepang Universitas Indonesia. Najwa Shihab merupakan alumnus Fakultas Hukum Univeritas Indonesia. Sementara itu, Tina Talisa justru semakin jauh dari dunia jurnalistik. Ia merupakan dokter gigi dari Fakultas Pajajaran Bandung-Jawa Barat.
Lantas apa menariknya dengan tiga wanita ini? Jika berbicara mengenai media, banyak orang yang beranggapan bahwa media massa merupakan bidang pekerjaan yang identik dengan pekerjaan kaum pria dan wanita sulit masuk dalam ranah ini. Pada awalnya pekerjaan dalam dunia broadcasting atau media massa dianggap memiliki resiko yang cukup tinggi sehingga pekerjaan ini tidak disarankan oleh untuk wanita. Namun seiring dengan adanya pemahaman wanita pekerjaan ini mulai dilirik oleh wanita. Perlahan namun pasti, wanita mulai tertarik untuk terjun didalam dunia broadcasting, mulai dari presenter, camera person, hingga jurnalis. Kemunculan merekapun mulai mendapat posisi yang mulai diperhitungkan dalam dunia broadcasting meski bekerja dalam ranah ini butuh tanggung jawab yang ekstra.
Walaupun tidak memiliki keahliaan khusus dalam dunia broadcasting akan tetapi ketiga wanita ini memang memiliki kelebihan atau multitalent. Selain cerdas dalam membawakan sebuah program acara mereka juga mempunyai paras yang cantik dan smart (cerdas) sehingga terlihat good looking (enak dipandang) saat didepan kamera. Inilah yang menjadikan mereka memiliki tempat tersendiri dihati pemirsa. Dalam pandangan penulis, masuk wanita kedalam dunia broadcasting-media massa mampu memberikan nilai lebih atau nilai estetika terlbih saat mereka memandu sebuah program yang membutuhkan keahilan. Bisa dibilang wanita memberi nilai estika atau sentuhan tersendiri dalam dunia broadcasting.
Dengan gaya atau kekhasan mereka masing-masing dalam membawakan sebuah program acara, mereka dianggap cukup memilki karakter dalam menjaga keberlanjutan program yang mereka gawangi. Ketiadaan background jurnalistik bagi mereka sepertinya tidak begitu dipersoalkan begitu juga bagi pemilik media massa. Biasanya mereka hanya perlu diberikan sedikit informasi dan tinggal dilakukan ‘pemolesan’ hingga mereka muncul sebagai presenter yang dilihat berkompeten dalam menyampaikan informasi kepada khalayak
Terkait dengan itu, media massa juga mampu menghantrakan para pekerja media khususnya para penyiar/prenster menjadi selebritis yang kehidupan mereka selalu diincar untuk diinformasikan. Ketetanaran atau kepopuleran mereka tidak hanya sebagai figur selebritis semata, akan tetapi berdampak pada nilai ekonomis yang akan mereka peroleh. Biasanya, semakin populer semakin tinggi finasial yang akan mereka dapatakan begitu juga dengan jenjang karir yang akan mereka dapat. Oleh karena itulah, media massa menjadi lading baru pekerjaan yang banyak diincar oleh masyarakat.
Untuk menaikkan kredibilitas mereka dalam dunia broadcasting, mereka ternyata tidak hanya ditampilkan di depan layar kaca untuk memandu sebuah acara akan tetapi mereka juga harus bisa terlibat langsung untuk melaporkan semua informasi atau peristiwa yang terjadi atau lazim disebuat jurnalis. Mereka dituntut untuk bisa melakukannya. Keterlibatan perempuan dalam media massa baik dalam berbagai tataran baik di media prifit maupun di media non profit , mereka adalah fenomena yang mengaggumkan. Dalam bidang apapun tidak terkecuali para jurnalis, wanita selalu harus berjuang untuk dapat eksis dalam profesi mereka, baik secara struktur, isi maupun penampilan.
Lebih ekstrim dari itu, para wanita yang mengambil jalur sebagai jurnalis sebagi profesi mereka juga harus mengambil beragam resiko yang harus diterima dilapangan. Namun demikian keterlibatan perempuan di media massa baru dapat dirasakan dalam kurun waktu lima puluh tahun belakangan ini. Sebelumnya profesi ini atau lebih spesifiknnya jurnalis hanya dinikmati oleh laki-laki. Kini wanita yang berprofesi sebagai jurnalis sudah mencapai angka yang cukup menggembirakan terutama di negara maju, sekitar 30 % hingga 40 %, bahkan di Finlandia mencapai angka 49 % ( Jurnal Perempuan 2003).
Meski saat ini banyak wanita yang terjun dalam media massa tetapi ada dua (2) faktor yang mempengaruhi posisi peremuan dalam media massa. Yang pertama adalah sumber daya manusia manusia wanita dalam struktur organisasi media dan yang kedua adalah penggambaran wanita dalam pemberitaan. Ketika organisasi media sudah cukup mengakomodir lebih banyak wanita dalam strukturnya diharapkan nafas maskulintas akan bergandengan dengan nafas feminitasnya dalam organisasi tersebut dan keberpihakannhya terhadap wanita menjadi lebih besar (JI: 2003).
Berbagai kontroversi dan perdebatan mengenai keterlibatan wanita terjun dalam media massa hingga kinipun masih terus terjadi. Secara arogan, media massa, mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh wanita. Dalam hal ini, media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap wanita. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki wanita, media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional.
Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi wanita di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka, bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilai-nilai produksi dan pasar. Namun, bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian, karena reproduksi pola yang terus menerus, semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik. Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme, tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa.
Dalam pandangangan penulis, penggambaran tentang wanita saat ini masih sangat bias gender karena ideology besar yang menafikkan kesetaraan masih membelenggu para pekerja media. Selain itu, pekerja media kelihatannya juga kurang memahami isu-isu perempuan. Data tahun 1998, meunjukkan jumlah wanita yang bekerja di industri media hanya sekitar 10 % daru jumlah total pekerja media (pers). Itupun biasanya daru merkea menduduki posisi-posisi yang strategis. Akibatnya ukuran-ukuran pemberitaan masih menggunakan ukuran laki-laki, karena merekalah yang dominan dalam pengambilan keputusan.
Apapun dan bagaimana alasan mereka (wanita) ini untuk memilih terjun dalam dunia media massa adalah pertanda baik bahwa kini wanita telah menyetarakan dengan kaum pria dalam resiko dan tanggung jawab tanpa meninggalkan ranah mereka sebagai seorang wanita yang harus menjadi istri dan ibu. Bisa jadi mereka adalah bentuk baru Kartini modern. Kartini yang mampu wewujudkan mimpi-mimpi wanita/perempuan lain untuk bisa menunjukkan eksistensi diri dalam berbagai sektor yang selama ini dipegang oleh kaum pria.
* Tulisan ini dibuat dalam rangka ujian tengah semester Isu-isu komunikasi terkni (Kartini dan Media)

Daftar Pustaka
Jurnal Perempuan, Perempuan dan Media - Edisi 28, Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta, 2003.

tab